Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sajak / Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak / Puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi Sayyidah Fatimah kepada Rosulullah Muhammad

Puisi Sayyidah Fatimah kepada Rosulullah Muhammad


Nafasku tersekat dalam tangisan
Duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan
Sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan
Aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan

Kala rinduku memuncak, kujenguk pusaramu dengan tangisan

Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu, tangisan memelukku
Kenangan padamu melupakan daku dari segala musibah yang lain
Jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah,
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih

Berkurang sabarku bertambah dukaku
setelah kehilangan Khatamul Anbiya
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas derasnya
jangan kautahan bahkan linangan darah
Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan
pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata langit
bebukitan, hutan, dan burung
dan seluruh bumi menangis
Duhai junjunganku,
untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah
bukit-bukit dan lembah Makkah
Telah menangisimu mihrab
tempat belajar Al-Quran di kala pagi dan senja
Telah menangisimu Islam
sehingga Islam kini terasing di tengah manusia
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
akan kau lihat kegelapan setelah cahaya

(Ini adalah puisi yang konon dibacakan oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra setiap kali beliau mengunjungi makam ayahandanya, Rasulullah, Muhammad SAW)

Dakwah Adalah Cinta

DAKWAH ADALAH CINTA 



Memang seperti itu dakwah. 
Dakwah adalah cinta. 
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. 
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu. 
Berjalan, duduk, dan tidurmu. 
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yang kau cintai. 

Lagi-lagi memang seperti itu Dakwah. 
Menyedot saripati energimu. 
Sampai tulang belulangmu. 
Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. 
Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. 
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. 

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasululloh. 
Beliau memang akan tua juga. 
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Alloh.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. 
Dia memimpin hanya sebentar. 
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. 
Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. 
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. 
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. 
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. 
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. 
Toh memang itu yang diharapkannya ; mati sebagai jiwa yang tenang. 

Dan di etalase akhirat kelak, 
mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. 
Kepalanya sampai botak. 
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. 
Kurang heroik? 
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; 
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, 
yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat. 

Dakwah bukannya tidak melelahkan. 
Bukannya tidak membosankan. 
Dakwah bukannya tidak menyakitkan. 
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. 
Tidak…................. 
Justru kelelahan. 
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. 

Setiap hari, 
satu kisah heroik, 
akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani…...
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi.....… 
akhirnya menjadi adaptasi. 

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, 
pada akhirnya salah satunya harus mengalah. 
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. 
Lalu terus berkobar dalam dada. 

Begitu pula rasa sakit. 
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. 
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. 

Begitupun Umar. 
Saat Rasululloh wafat, ia histeris. 
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. 
Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. 
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. 
Dan menjadi semacam tonik bagi iman. 

Karena itu kamu tahu. 
Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. 
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. 
Karena mereka jarang disakiti di jalan Alloh. 
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. 
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, 
mereka merasa menjadi orang besar. 
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati : 
“ya Alloh, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang “ 

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. 
Jasadnya dikoyak beban dakwah. 
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta. 
Mengajak kita untuk terus berlari… 
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. 
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. 
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. 
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. 
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” 



Muhammad Faisal, SPd, M.MPd 
Bekasi, 14/05/2011

Sepucuk surat dari Ayah dan Ibu



SEPUCUK SURAT DARI AYAH DAN IBU


Anakku...
ketika aku semakin tua,,
aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku

suatu ketika aku memecahkan piring,
atau menumpahkan sup diatas meja, karena penglihatanku berkurang
aku harap kamu tidak memarahiku
orang tua itu sensitif,,,
selalu merasa bersalah saat kamu berteriak

Ketika pendengaranku semakin memburuk,
dan aku tidak bisa mendengar apa ayang kamu katakan,
aku harap kamu tidak memanggilku "Tuli!"
mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya

Maaf, anakku... aku semakin tua

Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun
seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan
aku mohon, jangan bosan denganku

Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan,
seperti kaset rusak
aku harap kamu terus mendengarkan aku
tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil
dan kamu ingin sebuah balon?
kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku...
tercium seperti orang yang sudah tua
aku mohon jangan memaksaku untuk mandi
tubuhku lemah.....
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin
aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu...
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mengejar-ngejar kamu... karena kamu tidak ingin mandi
Aku harap kamu bisa bersabar denganku,
ketika aku selalu rewel
ini semua bagian dari menjadi tua,,
kamu akan mengerti ketika kamu tua

Dan jika kamu memiliki waktu luang,
aku harap kita bisa berbicara
bahkan untuk beberapa menit
aku selalu sendiri sepanjang waktu
dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara
aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan
Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu

Ketika saatnya tiba...
dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku

Maaf......
kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku,
selama beberapa saat terakhir dalam hidupku
aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama

Ketika waktu kematianku datang
aku harap kamu memegang tanganku
dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian
dan jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta
aku akan berbisik pada-Nya
untuk selalu memberikan berkah padamu
karena kamu mencintai, ibu dan ayahmu...

Terima kasih atas segala perhatianmu, nak...
kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah



Anakmu



Anakmu.......

Karya : Kahlil Gibran
Dari Buku Sang Nabi


Anakmu bukan milikmu.
Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih-sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan.
Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap






Ibunda


IBUNDA


Kalau karna kerendahan hati, engkau menundukkan muka
Kalau karna rasa terimakasih yang mendalam, engkau berta’dzim
Kalau supaya diridloi Tuhan, engkau selalu siap mencium tangan
Tanyakan kepada Rosul Muhammad (yang pengetahuan dan lidahnya dijaga oleh Alloh)
Kepada siapakah engkau lakukan itu semua ?
Sang Rosul akan menjawab : “Ibunda”

Kemudian kalau engkau lebih lanjut bertanya :
Siapakah yang harus engkau ta’dzimi sesudah ibunda
Sang Rosul akan menjawab : “Ibunda”

Dan meskipun sekali lagi engkau bertanya :
Sesudahnya harus menghormati siapa ?
Sang Rosul yang hatinya lebih lembut dari salju itu menjawab : “Ibunda”

Kalau Ibunda tersenyum bahagia karna kebaikan hidupmu,
Dan engkau menghiasi senyum itu dengan memperluas cinta kasih kepada sesama
Maka sorga menghampar di masa depanmu

Kalau Ibunda menitikkan air mata karna suksesmu,
Dan engkau mengolah tangis itu menjadi taburan wewangian ke sekelilingmu
Maka istana emas di hari depan menantimu dengan tak sabar

Tetapi kalau Ibunda menangis oleh kepahitan
Yang engkau ciptakan melalui perbuatan-perbuatan durhaka
Maka suara rintihan dari kedalaman hati Ibunda
Akan menjelma menjadi lengkingan-lengkingan suara terompet
Yang amat keras dan memekakkan langit
Dan itu membuat ribuan malaikat akan naik pitam
Sehingga mereka beramai-ramai turun ke bumi,
Mengumpulkan batu-batu untuk  ditumpuk menutupi jalan di depanmu.

Ibunda adalah busur bagi anak panah keberhasialn hidupmu
Ibunda adalah tanah subur sekaligus air suci penyiram bagi bertumbuhnya
benih-benih kesejahteraan di muka bumi

Ibunda menyimpan sorga ditelapak kakinya
namun tak dijadikannya kebanggaan dan kekuasaan atasmu
melainkan dijelmakannya menjadi kasih sayang tak terhingga
diolahnya menjadi kelapangan hati dan persediaan maaf yang takkan pernah habis

Ibunda tidak mengepalai rumah tangga dan masyarakat
karena Ibunda adalah hatinya, nuraninya
dan jantung pemacu kehidupannya



Karya : EMHA AINUN NAJIB
03 Agustus 1996

Surat dari Ibunda untuk Anaknya

Surat dari Ibunda untuk Anaknya

Anakku......

Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
 
Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.
 
Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.
 
Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.
Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku.....
 
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku......
 
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku......
 
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku......
 
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku......
 
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku......
 
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat Ibu menyusui engkau. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku......
 
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]. Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

Puisi atau sajak ini, aku COPAS dari salah satu Blog diantara banyaknya Blog yang menulis sajak " SURAT DARI IBU UNTUK ANAKNYA". aku tidak tahu mengapa begitu banyak yang menulis sajak SURAT DARI IBU UNTUK ANAKNYA. Siapa yang mengawalinya ?, dan dari mana sumber asalnya ?. Namun yang jelas sungguh menyentuh hati ungkapan yang ada dalam sajak tersebut.


Mau Koment ?. Silahkan, aku tunggu komentnya...................