Cari di Blog Ini

Cinta dan Air Mata





Cinta Sejati

seringkali tumbuh subur

setelah disiram air mata




Hariadi adalah seorang pemuda yang sukses dalam karier. Ia dipercaya sebagai direktur manager sebuah perusahaan shampo dan kosmetik. Nasib baik dibidang kariernya ternyata tak sama baik dalam segi fisiknya. Meskipun tidak bisa dibilang jelek, ia juga tidak bisa dibilang tampan. Selain itu, Hariadi adalah seorang pemuda yang selalu mengagungkan, menghormati dan patuh terhadap kedua orang tuanya, ia juga taat menjalankan perintah agama, walau pemahamannya terhadap agama tak seberapa mendalam.
                       Menjelang usia yang cukup untuk berumah tangga, Hariadi kemudian dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan anak seorang teman Ayahnya semasa dipesantren dulu. Sebut saja Farah namanya. Farah adalah gadis yang anggun, manis dan ramah. Sejak lulus Madrasah Ibtidaiyyah, Farah menghabiskan masa mudanya disebuah pesantren  hingga ia lulus S1 di Universitas yang dikelola oleh pesantren tersebut.
Sementara itu, selain karna rasa patuh terhadap kedua orang tua yang menjodohkannya dengan Farah, Hariadi memang sangat mencintai dan menyayangi Farah. Bisa ditebak sebabnya, yakni karna Farah adalah gadis yang manis, anggun, ramah dan berbudi pekerti luhur. Maka tak salah bila Hariadi begitu mencintai Farah. Berbeda halnya dengan Hariadi yang sangat mencintai dan menyayangi Farah. Farah tak pernah mencintai, bahkan tak ada sedikitpun perasaan cinta dan sayang tehadap Hariadi. Kalaupun akhirnya Farah harus menerima Hariadi sebagai suaminya, adalah lantaran karna Farah tak mau menyakiti hati kedua orang tuanya dengan menolak dijodohkan dengan Hariadi.
Akhirnya, senang atau tidak senang, Farah pun harus menerima Hariadi sebagai suaminya, walau dengan perasaan berat dan rasa tersayat. Demi mengikuti kemauan kedua orang tuanya, dan demi membahagiakan hati kedua orang tuanya, farah harus rela mengorbankan kebahagian dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu begitu cepatnya, bulan pun telah berganti tahun. Tak terasa lima tahun sudah Farah menjalani hari-hari sebagi istri Hariadi. Dalam lima tahun itu Farah telah dikarunia dua orang anak dari Hariadi. Dan dalam lima tahun itu pula, dengan dua orang anak, ternyata tak juga mampu menyemikan benih cinta dan sayang di hati Farah kepada Hariadi. Sikap ramah dan budi pekerti luhur yang selama itu telah menghiasi pribadi Farah, lambat laut mulai terkikis oleh keangkuhan hati Farah. Keangkuhan hati yang sama sekali tak pernah berusaha mencoba untuk sekedar menyemikan benih cinta dan sayang kepada Hariadi, orang yang sangat mencintai dan menyayanginya. Farah yang dulu ramah, kini menjadi wanita yang angkuh dan maunya menang sendiri. Bahkan, budaya metropolitan kini juga bagai virus yang merasuki prilaku Farah, merubah pemikiran dan penampilannya dari bersahaja menjadi wanita serba mewah. Tiap hari ia keluar-masuk salon hanya sekedar merapikan rambut dan merawat kulit. Dan tiap hari juga ia harus membeli  pakaian sekedar mengikuti update trend terkini. Beruntung sekali Farah menjadi istri Hariadi, Hariadi yang penyabar, dan sangat menyayangi Farah. Segala kemauan dan keinginan Farah, Hariadi selalu berusaha mewujudkannya. Mulai dari perhiasan hingga mobil mewah, ia persembahkan buat istri tercintanya.
Sampailah pada suatu hari, Farah pergi ke sebuah salon di tengah kota. Seperti biasanya, sekedar ia ingin merapikan rambut dan merawat kulit sebagai rutinitasnya. Singkat kata, setelah semuanya selesai, Farah pun berdiri menghampiri tas yang ia letakkan di atas meja rias. Diraihnya tas tersebut, dan dibukanya. Ia raba-raba, mencari-cari dompet yang ia simpan di dalam tas, sebuah dompet kecil tempat menyimpan uang yang akan ia ambil untuk membayar ongkos perawatan di Salon tersebut. Hingga seluruh isi tas tersebut dikeluarkan semua, Farah tetap tak menemukan dompetnya. Ia lalu mengambil Handphone di saku celananya, dan coba menghubungi Hariadi yang saat itu sedang berada di Kantor tempat ia bekerja.
Farah              :      “hallo, yah kamu ambil dompetku ya ?!”
Hariadi          :      “ma sya’alloh .............., iya. Pagi tadi waktu kamu masih tidur, anak-anak berangkat    sekolah minta uang jajan, dan aku sedang tidak punya uang kecil. Lalu aku ambilkan dari dompetmu. Maaf sayank ya !, aku lupa mengembalikannya lagi kedalam tasmu. Maaf  ya sayank”
Farah              :      “Sekarang aku sedang berada di salon biasanya, dan lagi butuh uang buat bayar ongkos salon. Gimana ini yah ?.  pokoknya kamu harus antarkan dompetku, sekarang !”
Hariadi          :      “Iya iya, sekarang aku antarkan kesana”
                        Kemudian Hariadi segera menyambar kunci kontak Honda Jazz-nya, dan mengendarainya menuju ke rumah. Sampai di rumah, ia kemudian mencari dompet istri tercintanya. Dan setelah dapat ia temukan dompet istrinya, segera ia menuju salon dengan Honda Jazz-nya.
                        Sementara itu Farah yang sedang menunggu kedatangan Hariadi sambil membaca-baca majalah kesukaannya. Namun setelah sekian lama Farah menunggu, Hariadi tak kunjung datang juga. Sambil menggerutu dan menyimpan kemarahan dalam hati, Farah coba memencet-mencet nomor Handphonnya untuk menghubungi Hariadi.
Farah              :    “Hallo.......!, kenapa lama sekali sih”
Belum sempurna kalimat yang diucapkan Farah, tiba-tiba terdengar jawaban dari Handphon Hariadi suaminya. Namun suara itu bukanlah suara Hariadi yang telah Farah kenal.
Farah              :    “Hallo, siapa ini ?, mana Hariadi”
Suara HP       :    “Apa saat ini  saya sedang bicara dengan istri bapak Hariadi ?”
Farah              :    “ya, siapa ini ?”
Suara HP       :    “Maaf ibu, saya Petugas Kepolisian. Bapak Hariadi baru saja mengalami kecelakaan. Sekarang beliau sedang dirawat di Rumah Sakit KASIH IBU”
                        Mendengar berita tersebut, spontan hati Farah serasa dihantam sesuatu dengan keras. Mendadak dadanya tiba-tiba serasa sesak. Sejenak beberapa saat Farah seperti terpaku, ia tak  dapat  berpikir apa-apa, ia juga tak mampu untuk menangis. Beberapa saat kemudian ia dapat menguasai diri dan tersadar. Dalam benaknya ia berkata : “Aku harus segera kerumah sakit”.
                        Sampai di Rumah Sakit, Farah tak langsung dapat menemui suaminya. Ia harus menunggu di ruang tunggu pasien, karna Hariadi sedang dalam penanganan di ruang ICU. Setelah beberapa jam kemudian, Dokter yang menangani Hariadi keluar dari ruang ICU.
Farah              :    “Dokter.........!” panggil Farah pada Dokter tersebut. ”Bagaimana keadaan suami Saya, Dokter ?”.
Dokter           :    “Ibu istri dari Pak Hariadi ya ?” sahut Dokter itu dengan balik tanya kepada Farah.
Farah              :    “Iya, Dokter !”
Doter              :    “Ibu harus sabar ya !. Suami ibu, selain karna kecelakaan itu, Pak Hariadi ternyata ditemukan Kangker di otak dan lambungnya. kecelakaan itu yang memicu pendarahan di otaknya sulit dihentikan. Namun sekarang sudah dapat teratasi semuanya. Ibu berdo’a saja yah !. agar Bapak Hariadi cepat sadar dan sembuh kembali.
                        Manusia berusaha namun Tuhan jua lah yang menentukan. Sejam kemudian setelah operasi pembedahan, Hariadi menghembuskan nafas terakhir. Tak ada kalimat terakhir yang di ucapkan Hariadi sebagai pesan terakhir kepada istri tercintanya. Lagi-lagi hati Farah seperti dihantan sesuatu dengan kerasnya. Mendadak seluruh tubuhnya kaku, lidahnya terasa kelu, bibirnya terkatup rapat, dadanya sesak. Namun masih tetap, tak ada air mata yang menetes dari matanya.
                        Setelah proses upacara pemakaman Hariadi selesai, barulah Farah mulai tersadar bahwa mulai kini hari-harinya akan menjadi sepi tanpa canda Hariadi, tanpa kasih dan sayang yang tulus dari seorang yang sangat mencintai dan menyayanginya, Hariadi suaminya. Dan mulai kini ia harus sendirian mengasuh kedua putra-putrinya. Akan terasa berat rasanya menjalani hari-hari tanpa seorang Hariadi. Namun memang begitulah cinta. Tak kan pernah terasa dan bisa dirasakan kedalaman maknanya sampai ia yang mencintai kita berada jauh dan meninggalkan kita.
                        Sehari setelah itu, sahabat karib Hariadi datang ke rumah Farah, Habib namanya. Habib datang dengan membawa surat yang ditulis Hariadi jauh-jauh sebelum ia meninggalkan Farah untuk selamanya. Kemudian setelah surat Hariadi telah diterima Farah, Habib pun langsung berpamitan pulang.
Dalam surat itu Hariadi mengatakan :

Untuk istriku Farah tercinta
Sengaja aku tulis surat ini untukmu, karna aku merasa bahwa umurku tidak lama lagi akan segera berakhir. Itu semua kusadari setelah aku melakukan pemeriksaan kesehatanku yang ternyata aku telah mengidap kangker di otak dan lambung.
Farah istriku tersayang .....,
Andai hari-hari kematianku itu telah benar-benar datang kepadaku, kumohon tak usahlah kau bersedih. Karna kesedihanmu itu mungkin akan membuat goresan luka di lubuk hatiku nanti. Aku ingin kau tetap tersenyum menjalani hari-harimu.
Farahku yang terkasih .....,
Maafkan aku ya ?!, Sebenarnya selama ini aku telah menyisikan uang untuk kutabung secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Uang itu aku simpan di BCA cabang Sepanjang. Bersama surat ini aku sertakan juga buku tabungannya. Sungguh tiada maksud lain, selain aku berharap bahwa kelak uang ini akan dapat berguna untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak kita. Dan semoga kau dapat memanfaatkan serta menggunakan uang tersebut dengan sebaik-baiknya.
Farahku yang kinasih .....,
Maafkan aku, bila harus pergi meninggalkanmu. Seandainya aku boleh memilih, Aku ingin selalu bersamamu, mencintaimu, mengasihimu, menjagamu dan mengisi hari-harimu dengan senyum kebahagiaan. Tapi inilah taqdir yang harus kita jalani.
Farah....,
Selamat tinggal Farah istriku yang tercinta. Jadilah ibu yang baik, yang menjadi tauladan dan mengasihi anak-anak kita.
                                                                               
 Hariadi


                       
                        Setelah membaca surat itu, Farah seakan menahan air mata agar tidak menetes di pipinya, namun matanya tetap saja berkaca-kaca basah oleh air mata. Tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Betapa ia mengenang Hariadi yang sangat mencintai dan mengasihinya, Hariadi suaminya yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan dan kesenangan buatnya, kini telah pergi meninggalkannya.
                        Dalam benak Farah berkecamuk berjuta penyesalan dan kekecewaan. Hatinya marah terhadap dirinya sendiri yang tak pernah berusaha untuk bisa mencintai dan mengasihi Hariadi saat Hariadi masih berada disisinya. Ia menyesal karna tak pernah berusaha mempersembahkan sesuatu yang terindah buat Hariadi suaminya. Ia tak pernah menghidangkan, menyajikan, memasak makanan buat Hariadi. Bahkan menyajikan secangkir kopi pun ia tak pernah melakukannya sama sekali. Yang akhirnya, setiap hari Hariadi harus selalu makan makanan instan untuk dirinya sendiri, makanan instan yang banyak mengandung zat kimia dari bahan pengawetnya yang memicu munculnya penyakit kangker pada diri Hariadi. Tapi Hariadi tak pernah mengeluh sama sekali.
                        Farah menyesal karna tak pernah berusaha untuk tahu tentang kondisi kesehatan suaminya, bahkan ia tak pernah tahu apa saja yang menjadi hoby dan kesukaan suaminya. Padahal sebaliknya Hariadi selalu tahu apa saja yang menjadi kesukaan, kebiasaan, bahkan hal yang paling dibenci oleh Farah.
                        Hariadi selalu menyerahkan seluruh gaji bulanannya kepada Farah, Namun begitu pun, Hariadi masih sempat menabung untuk masa depan istri dan putra-putrinya. Entah dari mana ia mendapatkan uang untuk ditabung itu. Yang jelas, adalah bukan hasil dari korupsi ataupun menipu.
                        Penyesalan selalu datangnya belakangan. Dan penyesalan yang dialami Farah telah benar-benar membuat Farah menjadi orang yang terhukum oleh perasaan cinta yang datangnya terlambat setelah Hariadi tiada. Farah memutuskan bahwa dirinya tidak akan menikah lagi dengan orang lain, walau ia masih bisa dikatakan muda, cantik dan mempesona. 28 tahun umurnya. Sebagai tebusan atas cinta Hariadi yang begitu mendalam kepadanya.
                        Singkat cerita, ketika Putrinya menjelang usia dewasa dan duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA, sebut saja Nayla namanya. Pada waktu duduk-duduk diruang tamu bersama Farah dan adiknya Nidzom, Farah nyeletuk omongan kepada ibunya : “Bu...., kalau nanti aku sudah berumah tangga, aku ingin mencintai suamiku seperti kesetiaan ibu dalam mencintai ayah”. Mendengar kalimat tersebut, spontan Farah kaget dan sepintas telah mengingatkan pada peristiwa 10 tahun lalu, saat Farah masih didampingi suaminya. “Jangan Nayla, jangan kau mencintai suamimu seperti cinta ibu kepada ayahmu, tapi cintailah suamimu seperti ayahmu dalam mencintai ibu. Karna cinta ayahmu kepada ibu adalah cinta sejati. Cinta ayahmu begitu dalam dan tulus tanpa pamrih. Cinta sejati adalah cinta yang selalu berusaha memberi dan mempersembahkan yang terindah buat yang dicintai. Cinta sejati tak pernah berharap balasan dan pamrih. Dari cinta seperti itulah kau akan menemukan kebahagian sejati. Karna dalam cinta yang tulus dan sejati, segala derita dan nestapa akan berubah menjadi terasa ni’mat dan indah.

1 komentar:

shofiyuddinakhmad@gmail.com mengatakan...

I like Story

Posting Komentar